Pada tahun 1353 Hijriyah, seorang hamba Allah Subhaanahu wata'ala sekaligus seorang syaikh pembimbing yang sangat dihormati (Maulana Muhammad Ilyas Rahmatullah 'alaih), telah menyuruh penulis agar menulis sebuah kitab berbahasa Urdu yang berisi tentang kisah-kisah kehidupan para shahabat Radhiyallahu 'anhum, dan khususnya tentang keteguhan agama para wanita dan anak-anak shahabat. Harapannya, orang-orang yang gemar membacakan kisah kepada anak-anaknya, dapat mengganti dongeng-dongeng palsu yang merusak, dengan kisah-kisah berharga ini. Hal itu menyebabkan peningkatan agama mereka. Bila para ibu di rumah meninggalkan dongeng-dongeng palsu dan menggantinya dengan kisah-kisah shahabat, maka akan menumbuhkan rasa cinta dan rasa memuliakan kepada para shahabat dalam hati anak-anak serta meningkatkan semangat mereka terhadap agama.

Nasihat dan petunjuknya bagi penulis sungguh penting untuk diamalkan. Selain hutang budi penulis terhadap kebaikannya, penulis juga berharap dengan menunaikan cita-cita orang shalih yang dekat dengan Allah Subhaanahu wata'ala ini, akan menjadi sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat. Meskipun demikian, karena kelemahan penulis, tidak ada harapan bahwa penulis akan mampu menunaikan tugas itu sesuai dengan keinginan dia. Oleh karena itu, dia menyampaikan perintah ini berkali-kali selama empat tahun, tetapi penulis belum mampu mengerjakan perintah dia dan penulis merasa malu atas ketidakmampuan penulis.

Pada bulan Shafar 1357 Hijriyah, karena suatu penyakit yang penulis derita, untuk beberapa hari penulis dilarang berpikir terlalu keras. Kemudian timbul dalam pikiran penulis, hendak menggunakan masa-masa tersebut untuk menunaikan pekerjaan yang penuh berkah ini. penulis berpikir, tidaklah mengapa seandainya kelak karya tulis ini hasilnya tidak begitu dia sukai. Yang penting penulis telah menggunakan waktu-waktu senggang ini untuk melakukan pekerjaan yang begitu berharga dan penuh berkah ini.
Tidak diragukan lagi, bahwa memang kisah-kisah para kekasih Allah Subhaanahu wata'ala itu, layak untuk diteliti, dicari, dan diambil pelajarannya. Terutama para shahabat Radhiyallahu 'anhum yang telah dipilih oleh Allah Subhaanahu wata'ala untuk menyertai kekasih-Nya, yaitu Baginda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka orang-orang yang sangat layak kita teladani. Selain itu, dengan sering mengulang-ulang kisah kehidupan orang-orang yang dekat dengan Allah Subhaanahu wata'ala, akan menyebabkan turunnya rahmat Allah Subhaanahu wata'ala. Pemimpin ahli tasawwuf Syaikh Junaid Al-Baghdadi Rahmatullah 'alaih, mengatakan bahwa cerita-cerita orang shalih adalah seperti satu pasukan dari pasukan-pasukan Allah Subhaanahu wata'ala yang dengannya hati para murid akan mendapatkan kekuatan. Ada seseorang yang bertanya kepadanya, "Adakah dalil yang menguatkan hal itu?" la menjawab, "Ya, Allah Subhaanahu wata'ala berfirman:

"Dan semua kisah dari para Rasul, Kami ceritakan kepadamu yang dengannya Kami teguhkan hatimu. Dan di dalam cerita ini engkau mendapatkan kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." (Q.S. Huud: 120, dari Kitab Bayanul Quran)

Ada satu hal yang harus diresapi dalam hati, bahwa hadits-hadits Baginda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam atau kisah-kisah orang-orang shalih, begitu juga kitab-kitab masail dan nasihat orang-orang yang terpercaya, tidak cukup hanya dibaca sekali kemudian berhenti untuk selamanya. Namun, sesuai dengan kemampuan dan keadaan masing-masing, hendaknya dibaca berulang-ulang.

Syaikh Abu Sulaiman Darani Rahmatullah 'alaih, seorang waliyullah, berkata, "Suatu ketika aku hadir dalam suatu majelis untuk mendengarkan nasihat. Nasihat itu sangat berkesan di hati, tetapi setelah majelis itu selesai, kesan itu mulai hilang dari hatiku. Aku menghadiri majelis tersebut kedua kalinya, maka aku merasakan kesan nasihat tersebut terus tertanam dalam hati selama perjalanan ke rumah. Pada kehadiranku yang ketiga kalinya, aku merasakan kesan tersebut terus tertanam dalam hati sampai di rumah. Sesampainya di rumah aku menghancurkan alat-alat yang menyebabkan kemaksiatan dan memilih jalan yang diridhai Allah Subhaanahu wata'ala."

Demikian pula halnya dengan kitab-kitab agama, jika hanya membaca sepintas lalu saja, kesannya akan kurang. Oleh karena itu, kita sangat perlu membacanya berkali-kali.

Untuk mempermudah dan lebih memberi kesan ke dalam hati para pembaca, penulis membagi risalah ini menjadi 12 bab dan mengakhirinya dengan satu bab penutup.
Bab Kesatu : Ketabahan Menghadapi kesusahan dan Cobaan demi Agama
Bab Kedua : Perasaan Takut kepada Allah Subhaanahu wata'ala
Bab Ketiga : Kezuhudan dan Kesederhanaan Para Radhiyallahu 'anhum
Bab Keempat : Ketakwaan Para Shahabat Radhiyallahu 'anhum
Bab Kelima : Kegairahan dan Kecintaan terhadap Shalat yang khusyu' dan Khudhu'
Bab Keenam : litsar, Kasih Sayang, dan Membelanjakan Harta di Jalan Allah Subhaanahu wata'ala
Bab Ketujuh : Keberanian, Kepahlawanan, dan Rindu Mati
Bab Kedelapan : Semangat Menuntut Ilmu dan Mendalaminya
Bab Kesembilan : Ketaatan Para Shahabat Radhiyallahu 'anhum kepada Perintah dan kehendak Baginda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam
Bab Kesepuluh : Semangat Beragama Kaum Wanita
Bab kesebelas : Semangat Anak-Anak dalam Agama
Bab kedua belas : Contoh-contoh kecintaan Para Shahabat Radhiyallahu 'anhum terhadap Baginda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam
Penutup : Adab-Adab kepada Para Shahabat Radhiyallahu 'anhum dan Sekilas tentang Keutamaan Mereka